Broken String : Trauma Grooming dan Thinking Error pada Pelaku Dewasa Tinjauan Kesehatan Mental dari Panti Karya Asih

Analisis dari Sudut Pandang Panti Karya Asih

Panti Karya Asih memandang kasus seperti yang tertuang dalam Broken Strings bukan semata-mata soal “orang jahat” versus “korban”, tetapi sebagai fenomena kompleks yang melibatkan distorsi berpikir, kegagalan empati, dan relasi kuasa yang timpang. Penting untuk ditegaskan sejak awal tidak semua pelaku grooming dapat langsung disebut “sakit jiwa”, namun banyak menunjukkan pola thinking error serius dan maladaptif.

Apakah pelaku grooming otomatis sakit jiwa?

Menurut pendekatan Panti Karya Asih, grooming tidak otomatis berarti gangguan jiwa klinis seperti skizofrenia atau gangguan psikotik. Namun, perilaku tersebut sangat kuat mengarah pada gangguan fungsi psikologis dan moral, antara lain:

  • kegagalan empati (tidak mampu memahami dampak pada korban)
  • distorsi moral (membenarkan tindakan salah)
  • penyalahgunaan relasi kuasa
  • kebutuhan kontrol emosional terhadap orang lain

Dalam praktik rehabilitasi, tipe perilaku ini sering berada di wilayah gangguan kepribadian atau pola kelekatan tidak sehat, bukan gangguan jiwa berat.

Analisis menggunakan teori Thinking Error

Dalam sudut pandang Panti Karya Asih, perilaku pelaku grooming dapat dianalisis melalui thinking error (kesalahan berpikir), yang sering ditemui pada individu dewasa dengan pola relasi bermasalah.

Beberapa thinking error yang relevan:

a. Minimization error
Pelaku cenderung mengecilkan dampak perbuatannya, misalnya dengan berpikir:
“Ini hanya hubungan”, “Dia juga mau”, atau “Saya hanya menemani”.

b. Rationalization error
Tindakan salah dibungkus dengan pembenaran emosional:
“Saya menyelamatkannya”, “Dia butuh saya”, atau “Saya satu-satunya yang mengerti dia”.

c. Power distortion
Pelaku gagal menyadari atau sengaja mengabaikan ketimpangan usia, emosi, dan posisi hidup antara dirinya dan remaja yang masih rentan.

d. Emotional entitlement
Merasa berhak atas perhatian, cinta, atau tubuh orang lain untuk memenuhi kebutuhan emosinya sendiri.

Menurut Panti Karya Asih, thinking error seperti ini berbahaya karena pelaku bisa tampak normal secara sosial, bekerja, bergaul, bahkan religius, namun memiliki pola relasi yang merusak.

Apakah ini human error atau masalah psikologis?

Panti Karya Asih membedakan secara tegas:

  • Human error biasa → terjadi tanpa pola berulang dan disertai penyesalan
  • Thinking error kronis → berulang, terstruktur, dan merugikan orang lain

Dalam konteks grooming, yang terjadi bukan human error sesaat, melainkan:

  • proses manipulatif yang berlangsung lama
  • kesadaran bertahap dalam mengontrol korban
  • ketidakmampuan menghentikan diri meski ada tanda bahaya

Ini menunjukkan masalah regulasi emosi dan kontrol impuls yang serius, meski belum tentu gangguan jiwa berat.

Mengapa pelaku sering tidak merasa bersalah?

Dalam pengalaman pendampingan Panti Karya Asih, individu dengan thinking error seperti ini sering:

  • memindahkan kesalahan ke korban
  • menyalahkan kondisi hidupnya sendiri
  • merasa dirinya korban keadaan

Ini bukan karena “tidak tahu salah”, tetapi karena struktur berpikir yang sudah rusak dan empati yang tumpul. Tanpa intervensi psikologis, pola ini bisa berulang pada korban lain.

Pandangan etik Panti Karya Asih

Panti Karya Asih menegaskan:

  • pelaku tetap bertanggung jawab secara moral dan hukum
  • analisis psikologis bukan pembenaran tindakan
  • pemahaman mental health bertujuan mencegah pengulangan, bukan memaklumi

Dengan memahami thinking error pelaku, masyarakat dapat:

  • lebih waspada terhadap tanda grooming
  • tidak mengglorifikasi relasi tidak sehat
  • melindungi remaja sebelum menjadi korban

Kesimpulan Perspektif Panti Karya Asih

Dari sudut pandang Panti Karya Asih, pelaku grooming dalam kasus seperti Broken Strings lebih tepat dipahami sebagai individu dengan distorsi berpikir dan kegagalan empati, bukan langsung dilabeli “orang gila”.

Namun, justru karena tampak normal, pola ini menjadi sangat berbahaya. Edukasi publik tentang thinking error, relasi kuasa, dan kesehatan mental dewasa adalah kunci agar kasus serupa tidak terus berulang.

Dukungan Anda Sangat Berarti
Panti Karya Asih terus menghadirkan layanan perawatan mental dan fisik yang menyeluruh untuk meningkatkan kualitas hidup warga binaan. Anda dapat ikut berpartisipasi dalam program pemberdayaan ini melalui doa, dukungan, atau donasi.

Donasi Rekening
a.n Karya Asih Selaras Anugerah
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
No. Rekening: 3124-0106-1458-536