Perilaku Kekerasan pada Anak Menurut Pandangan Panti Karya Asih

Perilaku kekerasan pada anak sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar. Di Panti Karya Asih, perilaku kekerasan tidak dipandang sebagai sifat bawaan anak, melainkan sebagai bentuk ekspresi dari kebutuhan, emosi, atau tekanan yang tidak mampu disampaikan dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, pemahaman yang benar menjadi langkah awal dalam penanganannya.

Memahami makna perilaku kekerasan pada anak
Menurut pandangan Panti Karya Asih, perilaku kekerasan pada anak dapat berupa memukul, menendang, merusak barang, berteriak berlebihan, atau melukai diri sendiri maupun orang lain. Perilaku ini sering muncul sebagai respons terhadap rasa frustrasi, kecemasan, trauma, kesulitan komunikasi, atau gangguan perkembangan dan mental tertentu.

Anak dengan kebutuhan khusus, gangguan emosi, atau riwayat pengalaman tidak menyenangkan cenderung lebih rentan menunjukkan perilaku ini, terutama ketika berada dalam lingkungan yang tidak aman secara emosional.

Penyebab perilaku kekerasan pada anak
Panti Karya Asih melihat bahwa perilaku kekerasan pada anak biasanya tidak berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti kesulitan mengungkapkan emosi, gangguan regulasi emosi, trauma psikologis, pola asuh yang tidak konsisten, hingga kondisi medis atau neurologis tertentu.

Anak yang belum mampu mengenali dan menyebutkan perasaannya sering menyalurkan ketegangan melalui tindakan fisik. Dalam kondisi tertentu, perilaku kekerasan juga bisa menjadi cara anak mencari perhatian atau perlindungan.

Pendekatan Panti Karya Asih dalam menangani perilaku kekerasan
Di Panti Karya Asih, penanganan perilaku kekerasan pada anak dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi dan berorientasi pada pemulihan. Anak tidak langsung diberi label “nakal” atau “bermasalah”, melainkan dipahami latar belakang emosional dan psikologisnya.

Langkah awal adalah menciptakan rasa aman. Anak perlu merasa diterima dan tidak dihakimi. Setelah itu, pendamping membantu anak mengenali emosi yang sedang dirasakan, memvalidasi perasaan tersebut, dan mengajarkan cara mengekspresikannya dengan lebih aman.

Modifikasi perilaku dilakukan secara bertahap melalui rutinitas harian, aktivitas terstruktur, serta penguatan positif. Hukuman fisik atau verbal tidak digunakan karena justru dapat memperparah perilaku kekerasan.

Peran pendamping dan keluarga
Menurut Panti Karya Asih, pendamping dan keluarga memiliki peran penting dalam mengelola perilaku kekerasan pada anak. Konsistensi sikap, ketenangan, dan komunikasi yang jelas sangat dibutuhkan. Anak perlu memahami batasan perilaku, tetapi juga merasakan kasih dan penerimaan.

Kolaborasi antara pendamping, keluarga, dan tenaga profesional seperti psikolog atau dokter sangat membantu dalam memastikan anak mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Tujuan jangka panjang penanganan perilaku kekerasan
Tujuan utama penanganan perilaku kekerasan pada anak di Panti Karya Asih bukan sekadar menghentikan tindakan agresif, tetapi membantu anak belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan membangun keterampilan sosial yang sehat. Dengan proses yang tepat, anak memiliki peluang untuk berkembang, beradaptasi, dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang secara emosional.

Dukungan Anda Sangat Berarti
Panti Karya Asih terus berkomitmen menghadirkan layanan pendampingan dan rehabilitasi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus dan tantangan kesehatan mental. Dukungan Anda melalui doa, perhatian, atau donasi sangat berarti untuk keberlanjutan program ini.

Donasi Rekening
a.n Karya Asih Selaras Anugerah
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
No. Rekening: 3124-0106-1458-536