Kisah Warga Panti Karya Asih, Autis Dewasa dengan Cerebral Palsy: Pentingnya Perawatan Diri dan Sosialisasi

Kasus orang dengan gangguan perkembangan dan disabilitas ganda masih sering terjadi di Indonesia, terutama ketika keluarga tidak lagi memiliki kekuatan fisik, mental, maupun dukungan sosial yang memadai. Salah satunya adalah kisah Melati (nama disamarkan), perempuan berusia 36 tahun, yang kini menjalani pendampingan di Panti Karya Asih.

Melati memiliki kondisi SIPI dengan cerebral palsy, sebuah kondisi yang memengaruhi kemampuan motorik, koordinasi tubuh, serta kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Setelah ayahnya meninggal dunia, kondisi keluarga semakin rapuh. Sang ibu mengakui sudah tidak lagi sanggup mengurus Melati seorang diri, baik secara fisik maupun emosional. Dalam kondisi terdesak dan tanpa dukungan yang cukup, Melati sempat mengalami perlakuan dikurung di rumah, bukan karena niat jahat, melainkan akibat kelelahan dan ketidakberdayaan keluarga.

Menurut pandangan Panti Karya Asih, kasus seperti Melati bukanlah kasus tunggal. Banyak autis dewasa dan penyandang disabilitas ganda mengalami isolasi sosial karena keluarga kehabisan sumber daya. Padahal, isolasi berkepanjangan justru dapat memperburuk kondisi psikologis dan menghambat perkembangan fungsi sosial.

Dalam pendampingan di Panti Karya Asih, kebutuhan utama Melati adalah pengaturan perawatan diri dan peningkatan kemampuan bersosialisasi. Perawatan diri seperti mandi, berpakaian, makan, serta kebersihan personal dilakukan secara terstruktur dengan pendamping. Pendekatan ini bertujuan menjaga rasa aman, harga diri, dan rutinitas yang konsisten, yang sangat penting bagi individu dengan autisme dan cerebral palsy.

Menariknya, Melati justru merasa nyaman berada di tengah keramaian. Ia menunjukkan ketenangan saat berada di lingkungan sosial, mengikuti kegiatan kelompok, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini menegaskan bahwa tidak semua individu autis menyukai kesendirian. Sebagian justru membutuhkan stimulasi sosial yang tepat untuk menjaga kestabilan emosi dan kesehatan mental.

Panti Karya Asih memfasilitasi kebutuhan tersebut melalui kegiatan bersama, terapi okupasi kelompok, aktivitas sosial sederhana, serta interaksi rutin dengan pendamping dan warga panti lainnya. Sosialisasi dilakukan secara bertahap, tanpa paksaan, dan disesuaikan dengan kapasitas Melati agar ia merasa diterima dan tidak tertekan.

Kisah Melati menjadi pengingat bahwa autis dewasa dan penyandang cerebral palsy membutuhkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Mereka membutuhkan lingkungan yang memanusiakan, memahami keterbatasan, sekaligus melihat potensi yang masih dapat dikembangkan. Pendampingan yang tepat mampu mencegah isolasi sosial, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan rasa aman baik bagi pasien maupun keluarga.

Panti Karya Asih hadir sebagai pusat pendampingan, perawatan, dan rehabilitasi jangka panjang bagi individu seperti Melati. Dengan pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial, Panti Karya Asih berkomitmen menjadi ruang pulih dan bertumbuh bagi autis dewasa dan penyandang disabilitas di Indonesia.

Dukungan Anda Sangat Berarti
Panti Karya Asih terus menghadirkan kegiatan edukatif dan rekreatif untuk meningkatkan kualitas hidup warga binaan. Anda dapat ikut berpartisipasi dalam program pemberdayaan ini dengan doa, dukungan, atau donasi.

Donasi Rekening
a.n Karya Asih Selaras Anugerah
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
No. Rekening: 3124-0106-1458-536