
ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) seringkali dikaitkan dengan kesulitan fokus atau hiperaktivitas. Namun, pada beberapa kasus, ADHD juga bisa memicu perilaku agresif, terutama saat emosi tidak terkelola dengan baik. Kisah Akar, seorang pemuda berusia 21 tahun yang mengidap ADHD sejak kecil, menjadi contoh nyata bahwa pendekatan yang tepat dapat membawa perubahan signifikan.
Awal Mula Tantangan: Emosi yang Terpendam dan Tantrum Tak Terkendali
Sejak kecil, Akar menjalani homeschooling di sebuah kota di Jawa. Ia memiliki riwayat tantrum yang selalu dituruti orang tuanya. Kebiasaan ini menciptakan pola di mana ia terbiasa mendapatkan keinginannya dengan meluapkan emosi. Puncaknya terjadi ketika Akar mulai merasakan emosi yang meluap-luap karena perasaan kagum pada seorang perempuan, namun ia tidak tahu bagaimana cara menyalurkan ekspresi tersebut.
Kondisi ini membuat orang tuanya mencari bantuan profesional. Tiga terapis yang didatangkan ke rumah pun merasa kewalahan dan akhirnya mengundurkan diri. Masalah utama yang dihadapi Akar bukan hanya ADHD, tetapi juga kesulitan mengelola emosi yang terakumulasi.
Titik Balik di Panti Karya Asih: Pentingnya Terapi dan Bonding Tulus
Tujuh bulan lalu, Akar memulai perjalanan baru di Panti Karya Asih. Di sana, ia mendapatkan pendekatan yang berbeda, yaitu melalui terapi ADL (Activities of Daily Living) dan terapi kemandirian. Melalui terapi ADL, Akar dilatih untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, yang secara tidak langsung membangun rasa tanggung jawab dan struktur dalam hidupnya.
Hal yang paling krusial dalam proses penyembuhan Akar adalah pendekatan para terapis. Kuncinya, menurut mereka, adalah membangun bonding atau ikatan yang tulus. Dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Akar, para pendamping berhasil menciptakan hubungan emosional yang kuat, yang membuat Akar merasa aman dan dipercaya. Pendekatan ini membuktikan bahwa pengalaman dan hubungan tulus di lapangan jauh lebih efektif daripada sekadar teori.
Selain terapi mental, ada juga perubahan fisik yang dilakukan, yaitu diet makanan yang bisa meningkatkan hormon agresif, seperti kecap dan gula. Kombinasi terapi mental dan fisik ini menciptakan hasil yang luar biasa.
Puncak Keberhasilan: Mengungkapkan Emosi dan Mengurangi Konsumsi Obat
Setelah tujuh bulan, perubahan pada diri Akar sangat signifikan. Ia tidak lagi sering meluapkan emosi secara agresif dan kini jauh lebih stabil. Bahkan, konsumsi obatnya bisa dikurangi secara drastis. Jika sebelumnya ia harus mengonsumsi obat setiap hari, kini ia hanya perlu minum dua minggu sekali.
Pencapaian terbesar terjadi saat Akar berhasil mengungkapkan emosi tidak stabilnya kepada terapis tanpa harus meledak. Ini adalah momen puncak keberhasilan bagi seorang terapis, di mana pasien dengan ADHD dapat mengidentifikasi dan mengomunikasikan perasaannya. Hal ini menunjukkan bahwa Akar telah memiliki kesadaran dan kontrol diri yang jauh lebih baik.
Kisah Akar mengajarkan kita bahwa penanganan ADHD, terutama yang disertai perilaku agresif, tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan. Pendekatan holistik, yang menggabungkan terapi aktivitas, kemandirian, diet, dan yang terpenting, ikatan emosional yang tulus dari para pendamping, adalah kunci utama menuju kesembuhan dan stabilitas.
